DATANG UNTUK BERSUARA ATAU DATANG HANYA UNTUK BERGAYA

Seiring berjalannya waktu banyak hal yang telah mengajarkan kita untuk lebih dewasa. Mulai dari cara kita berbicara, cara kita berbagi cerita, cara mengungkapkan cinta, hingga kemauan untuk menjaga apa yang kita punya. Begitu juga dengan pergerakan ini. Sebuah pergerakan yang kita semua pun tak pernah menyangka akan jadi sebesar ini. Mereka semualah yang berperan. Ya mereka.. Para individu merdeka yang terus berakumulasi menjadi bajingan di tiap pekan.

Bait demi bait, lagu demi lagu mereka nyanyikan dengan merdu. Gelegar terdengar disaat suara mereka menjadi satu. Berdiri 90 menit tanpa ragu hanya untuk serdadu tridatu. Dan memang keputusan mereka hadir untuk semua itu. Atmosfer ditiap laga, tentu sangat mereka rindu.

Seiring berjalannya waktu, komunitas kecil ini memasuki tahun ketiganya, kumpulan individu merdeka tribun utara berteriak lantang ketika pasukan tridatu berlaga, Namun tidak semuanya melakukan hal yang sama. Terkadang ada juga datang bukan untuk bersuara. Ada saja yang datang karena motivasinya ingin bergaya. Fashion memang tak pernah lepas dari kultur sepak bola. Bergaya itu perlu tapi juga harus tau waktu. Karena sejatinya tribun bukanlah tempat untuk pamer baju atau merk sepatu. Tribun adalah tempat untuk mengungkapkan rindu, untuk menunjukkan hebatnya tim kebanggaanmu. Karena para punggawa tidak akan pernah peduli dengan bau badanmu, mereka tidak peduli dengan bagaimana pakaianmu, mereka tidak peduli dengan harga sepatumu, mereka tidak peduli demgan jelita wanitamu, tapi mereka sangat peduli dengan suaramu. Orasimu yang menggetarkan seisi Dipta itu yang mereka mau.

Mari bersama saat ini nyalakan tanda bahaya sekali lagi. Dukung mereka dengan hati. Jangan biarkan mereka berjuang sendiri. Stadion Dipta tidak boleh sepi! 90 menit harus bernyanyi. Dengan energi dan semangat yang berapi. Sekali lagi, tribun utara bukanlah panggung hipster tempat dimana generasi muda mencari jati diri.

Tribun utara bukanlah tempat bermain untuk para metroseksual. Karen tribun utara butuh orang bengal dan bebal yang berisik disetiap celah sudut sakral. Buat kembali dipta bak neraka, ciptakan lagi suara individu merdeka, ingat, konsistensi di perlukan untuk membuat komunitas ini tetap pada janjinya, Janji untuk selalu menemani, janji untuk bernyanyi sampai peluit panjang berbunyi, janji untuk setia menjaga dan merawat yang sudah ada sejak pertama kali menginjakan kaki di tribun ini, barisan individu tribun utara bukan hanya sekedar bejanji, janji itu di bawa sampai mati! Dan Bukan sekedar janji yang hanya di nikmati lalu di ingkari.

Ayo! jangan menuntut kemenangan jika kita saja masih diam dan menikmati jalannya pertandingan, memang tidak mudah menjaga yang sudah ada, kesadaran para individu tribun utara harus cepat kembali bergelora, sadar dengan apa yang kita punya. Komunitas ini hanya wadah untuk mendukung bukan aksi fashion yang ada dipanggung

Sekali lagi, komunitas ini tidak lebih besar dari BALI UNITED FC!


Kiriman dari : NA & BR